Pelaku Usaha mendukung penuh implementasi RAN KSB

AGUSTUS 20,2019

Jakarta – Komitmen Indonesia dalam isu keberlanjutan, khususnya kelapa sawit sangat besar, Menurut Dr. Ir. Rusman Heriawan, M.Sc., selaku Penasihat FoKSBI, “Indonesia telah berkomitmen untuk mendukung keberlanjutan sawit dimulai melalui diplomasi internasional pada UN Summit tahun 2014”. Direktur PPHPBun, Kementerian Pertanian, Ir. Dedi Junaedi, M.Sc. menegaskan bahwa RAN KSB mendapatkan sambutan positif dunia internasional di Utrech, pada Amsterdam Declaration tahun 2017. RAN KSB bersifat komprehensif dan memberikan perhatian utama pada pekebun kelapa sawit, dengan melakukan pemutakhiran basis data pekebun yang terintegrasi, juga meningkatkan kapasitas dan kapabilitas pekebun agar dapat terwujud secara legalitas, lingkungan, sosial dan finansial.

Ketua Umum GAPKI, Ir. Joko Supriyono, mendukung penuh RAN KSB, dan mempunyai target 100 % anggota asosiasi GAPKI tersertifikasi ISPO pada tahun 2020 dan berkomitmen memasukkan agenda keberlanjutan dalam organogram GAPKI untuk mempercepat program sertifikasi ISPO dan mendorong pelaku usaha untuk sadar akan pentingnya keberlanjutan sektor kelapa sawit.

Kemenko Perekonomian memberikan dukungan penuh terhadap RAN KSB, dan siap menjadi katalis dalam percepatan proses legalitas dan implementasi RAN KSB, Ir. Musdhalifah Machmud, MT, Deputi II Bidang Koordinasi Pangan dan Pertanian, Kemenko Perekonomian, menegaskan bahwa Kemenko Perekonomian mendukung RAN KSB melalui asistensi dan koordinasi antar kementerian Lembaga agar RAN KSB dapat segera terimplementasi secara komprehensif dan berkomitmen untuk menerapkan prinsip keberlanjutan dalam setiap aspek tonggak ekonomi nasional, khususnya Kelapa Sawit, karena Komoditas Kelapa Sawit menyumbang Devisa Negara terbesar dan menjadi sumber pendapatan bagi jutaan rakyat Indonesia.

Agus Purnomo dari GAR (Golden Agri Resources), menjelaskan mengenai rantai pasok dan kebertelurusan dalam kerangka keberlanjutan melalui aplikasi perangkat lunak/software untuk mempermudah monitoring dan evaluasi sistem kebertelurusan serta kolaborasi dengan Pemerintah dalam Program Peremajaan Sawit Rakyat.

Edi Suhardi, Direktur Sustainability mewakili Goodhope, berkomitmen untuk menerapkan kriteria keberlanjutan, setiap program perusahaan disesuaikan dengan RAN KSB. Program yang sudah dijalankan oleh Goodhope mencakup pada Peningkatan Kapasitas Pekebun, Perlindungan Ekosistem dan Biodiversitas, Respek terhadap HGU, Plasma dan Mediasi Konflik berbasis kearifan lokal, dan komitmen sertifikasi keberlanjutan.

Selain para produsen kelapa sawit, pengguna produk kelapa sawit pun, Achmad Adhitya, mewakili Unilever, berkomitmen untuk mengelaborasi program yang dilakukan Unilever untuk mendukung program keberlanjutan dengan peluncuran blue print for sustainable growth dengan Program The Unilever Sustainable Living Plan (USLP) pada tahun 2010. Program Keberlanjutan Unilever menggandeng Perusahaan Perkebunan, seperti PTPN III dan perusahaan lainnya untuk melakukan asistensi petani, kebertelusuran, advokasi, penilaian risiko, pendekatan yurisdiksi dan lansekap, serta keterlibatan pemasok.

Pada kesempatan selanjutnya, Charles O’ Malley, Penasehat Kemitraan IAP, GCP (Green Commodities Programme), UNDP, menjelaskan tentang task force (gugus tugas) untuk pelaku usaha, yang bertujuan untuk meningkatkan standar sektor lebih luas, dengan pendekatan bertingkat pada aksi-aksi dan monitoring dengan metode corporate action matrix, untuk menjadi Pedoman Pelaku Usaha dengan keterlibatan multi-pihak dan kemitraan bersifat kolaboratif untuk mencapai kerja sama yang efektif antara pelaku usaha dengan pemerintah untuk implementasi RAN KSB.