IPB Dukung Pemantauan Tutupan Lahan Berbasis Data

JULI 4,2021

Untuk mendukung riset pemantauan tutupan lahan berbasis teknologi digital, pada 15 – 16 Juni lalu, IPB bersama LAPAN dan KLHK menggelar Loka Karya dan Pelatihan Pemantauan Tutupan Lahan berbasis Data Devegetasi EcoSystem.

Kegiatan ini merupakan bagian dari rangkaian inisiatif UNDP SPOI untuk menyediakan sistem pemantauan tutupan lahan yang efektif dan efisien. Sesi ini juga merupakan kelanjutan dari konsultasi publik yang pernah diadakan di Pelalawan, Desember 2020 yang lalu.

Kegiatan ini juga menjadi ajang berbagi pengalaman dan pengetahuan dalam menggunakan produk EcoSystem dan Ina-Alert dari kementerian dan dinas. Tujuannya adalah untuk menginventarisasi kebutuhan dan kualitas data yang diperlukan ke depan dalam perencanaan, pemantauan dan pengendalian tutupan lahan sektor pertanian, kehutanan dan tutupan lahan lainnya.

Menurut Dr Ernan Rustiadi, yang juga Kepala LPPM IPB University, IPB dengan dukungan UNDP telah menghasilkan produk riset aplikatif berupa webGIS EcoSystem dan aplikasi android INA-Alert. WebGIS EcoSystem ini adalah metode dan prosedur yang dapat memantau tutupan lahan. Sistem ini didukung aplikasi berbasis android INA-Alert yang membantu memvalidasi dan memverifikasi data yang ditampilkan WebGIS.

“Keberadaan WebGIS dan aplikasi dalam satu platform diharapkan membantu para pihak pada bidang perencanaan dan pengendalian sektor pertanian, kehutanan dan tutupan lahan lain di tingkat kementerian pusat dan pemerintah daerah,” ujar Dosen IPB University dari Departemen Ilmu Tanah dan Sumberdaya Lahan ini.

Selain menunjukkan hasil riset aplikasi EcoSystem yang dimiliki IPB, kegiatan ini turut memberikan kesempatan unjuk gigi bagi perangkat pemantauan lain seperti PLATYPUS – platform digital yang dikembangkan Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN).

Kedua aplikasi di atas melengkapi SIMONTANA (SIstem MONitoring HuTAn NAsional) yang merupakan platform pemantauan hutan yang dikembangkan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK). Platform KLHK ini didukung oleh LAPAN sebagai penyedia data citra dan BIG sebagai penyedia peta dasar.

Data yang tersedia dalam SIMONTANA sudah dimanfaatkan dalam inventarisasi hutan lahan, inventarisasi gas rumah kaca, penyesuaian baseline kehutanan, pembuatan tata ruang dan lahan kritis, pembuatan moratorium hutan dan sawit dan pembuatan perhutanan sosial.

Bila dikaitkan dengan sektor kelapa sawit, platform yang dikembangkan IPB ini akan sangat bermanfaat untuk memantau data tutupan lahan kelapa sawit. Ini didasarkan pada kebutuhan Ditjen Perkebunan untuk menentukan lokasi peremajaan kelapa sawit dan kebutuhan untuk mengetahui data sawit dalam kawasan hutan.

Platform EcoSystem dapat diakses pada laman https://lulcc.ipb.ac.id/home/. Beberapa fitur webGIS yang ada di laman tersebut diantaranya Forest Cover Change, Commodity Distribution, dan Devegetation Alert System yang sangat relevan dengan kebutuhan pemantauan komoditas kelapa sawit.

Sebagai penutup, Prof Lilik Budi Prasetyo, salah satu ahli remote sensing IPB, menyampaikan bahwa data EcoSystem sudah terpublikasi secara ilmiah. Namun perlu ada pertanggungjawaban, legalitas data, dan pengamanatan oleh wali data apabila data tersebut ingin digunakan secara legal. Pelatihan lanjutan masih perlu dilanjutkan untuk mempelajari lebih dalam penggunaan data pada platform EcoSystem.