Integrasi Sawit-Sapi, Upaya Dorong Perkebunan Berkelanjutan

APRIL 28,2021

Integrasi pengembangbiakan sapi dalam area perkebunan kelapa sawit ternyata dapat menguntungkan dari segi komersial dan lingkungan.

Pesan ini tertuang dalam diskusi daring bertajuk ‘Memulai Bisnis Pembiakan Sawit Sapi di Tanah Papua’, 25 Maret 2021 yang digelar dengan melibatkan berbagai pemangku kepentingan dari Papua.

Kegiatan yang merupakan kerja sama antara Universitas Papua, Pemerintah Provinsi Papua Barat, Indonesia - Australia Red Meat Cattle Partnership, didukung UNDP SPOI, bertujuan untuk mengelaborasi potensi usaha integrasi sawit-sapi di Papua.

Sistem pengembangbiakan sapi yang diintegrasikan dengan perkebunan kelapa sawit, atau biasa dikenal dengan integrasi sawit-sapi, telah coba diperkenalkan oleh Pemerintah Indonesia kepada pelaku usaha perkebunan dan peternakan sejak lebih dari satu dekade lalu.

Pemerintah pun, melalui Kementerian Pertanian, telah mengeluarkan instrumen regulasi untuk mendukung pelaksanaan integrasi sawit-sapi, yaitu Peraturan Menteri Pertanian Nomor 105 Tahun 2014 Tentang Integrasi Usaha Perkebunan Sawit dengan Usaha Budidaya Sapi Potong.

Hal ini diterjemahkan oleh pemerintah dengan mengeluarkan Instruksi Presiden Nomor 6 Tahun 2019 Tentang Rencana Aksi Nasional Perkebunan Kelapa Sawit Berkelanjutan 2019-2024, yang memasukkan integrasi sawit-sapi sebagai salah satu kegiatan prioritas.

Selain itu, dari sisi peternakan, pelaksanaan integrasi sawit-sapi juga dicanangkan sebagai salah satu strategi pemerintah dalam meningkatkan populasi ternak, bersama dengan program Sapi dan Kerbau Komoditas Andalan Negeri (SIKOMANDAN).

Dengan perkebunan kelapa sawit seluas 169.525 ha dan populasi sapi yang menduduki peringkat kedua untuk produksi daging merah di Papua, maka terdapat potensi yang cukup besar bagi pengusaha dan masyarakat di Papua untuk mengembangkan usaha integrasi sawit-sapi.

Sistem integrasi sawit-sapi senantiasa perlu dikembangkan dengan memperhatikan prinsip-prinsip keberlanjutan, dengan mendorong keseimbangan antara aspek sosial, ekonomi, dan lingkungan. Hal ini turut disampaikan secara khusus oleh Ir. Dedi Junaedi, MSc, Direktur Pengolahan dan Pemasaran Hasil Perkebunan, Ditjen Perkebunan - Kementerian Pertanian, selaku Ketua Sekretariat Tim Pelaksana Rencana Aksi Nasional Perkebunan Kelapa Sawit Berkelanjutan, dalam sambutannya.

“Kita harapkan pengembangan integrasi sawit-sapi di Papua harus didorong melalui praktik perkebunan yang berkelanjutan”, katanya.

Diskusi daring ini diharapkan dapat ditindaklanjuti dengan berbagai kegiatan pelatihan dan peningkatan kapasitas terkait sistem integrasi sawit-sapi, mulai dari teknis peternakan dan perkebunan dalam sistem integrasi sawit-sapi, hingga perhitungan finansial dan kelayakan usaha dari sistem integrasi sawit-sapi.

Apabila dilaksanakan secara benar, integrasi sawit – sapi akan turut bermanfaat  dalam meningkatkan produktivitas kelapa sawit maupun ternak. Penerapan sistem integrasi sawit-sapi yang benar juga dapat mendukung prinsip pembangunan berkelanjutan dan berkontribusi terhadap ketahanan pangan nasional.

Penulis : Danang A. Nizar